RE: Pemberantasan Kemiskinan, China vs. Indonesia!
Coba kita bandingkan cara-cara Indonesia dan cara negara China dalam memberantas kemiskinan.
Dari data MENKEU yang ada, saat ini tahun 2010 jumlah kemiskinan di Indonesia sekitar 13.5%. (See enclosed data below)
*
Kalau jumlah penduduk di Indonesia saat ini sebanyak 238 juta jiwa, maka 13.5% dari 238 juta adalah sekitar 55 juta jiwa masih HIDUP dalam kemiskinan, yakni hidup dengan pengeluaran Rp 20.000 sehari.
*
Sementara itu, program yang dipakai sebagai harapan terbesar bagi pemerintah Indonesia dalam menanggulangi kemiskinana adalah PERTUMBUHAN EKONOMI (Economic growth) yang saat ini berdasarakan data BPS dalam kwartal I ini mencapai 5.9% dan diakhir tahun bisa melampui target lebih dari 6%.
*
Tapi sayangnya, pertumbuhan ekonomi yang sehat itu TIDAK bisa menyerap tenaga kerja secara maksimal. Alasanya apa?
*
Menurut pendapat Boss analis statistic di BPS (Slamet Sutomo) adalah karena pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya di dukung oleh PADAT MODAL (seperti sektor Jasa) ketimbang PADAT KARYA (tradeable sektor).
*
Lain lagi dengan pendapat boss dan peneliti di LIPI (Latif Adam) yang mengatakan program untuk mengetaskan kemiskinan di Indonesia TIDAK EFFECTIVE!
*
Dari data yang ada di LIPI, pemerintah Indonesia semakin boros dalam menanggulangi kemiskinan. Tahun 2006, pemernitah perlu mengeluarkan Rp 1.06 juta untuk bisa mengentaskan 1 orang miskin. Sementara itu ditahun 2009, pemerintah Indonesia perlu dana Rp 2.04 juta untuk mengentaskan 1 orang miskin.
*
Biaya yang dikeluarkan untuk mengentaskan orang miskin naik dua kali lipat. Padahal dari tahun ke tahun angka kemiskinan menurun. Sehingga, seharusnya biaya yang dikeluarkan juga semakin berkurang. Ini malah naik,” jelas Latif. Dengan adanya kenaikan tersebut, Latif mengkhawatirkan itu sebagai cermin ketidakefektifan program kemiskinan.
*
Selanjutnya Latif memberikan solusi sbb:
*
“Semestinya, dengan menurunnya kualitas pertumbuhan ekonomi, pemerintah bisa mempercepat pengentasan orang miskin melalui program-program. Bukan saja program tidak langsung, tapi juga program yang langsung ditargetkan buat masyarakat miskin.”
*
Sekarang kita lihat sendiri data dari MENKEU dengan program langsung dan tidak langsung yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dibawah Presiden SBY:
*
*
Dari 12 progam pengestasan kemiskinan yang diberikan oleh pemerintah, hanya ada 3 program yang sifatnya long term dan permanent. Yang lainya cuma bersifat quick-fix atau band-aid yang sifatnya short term, window dressing dan cosmetic.
*
Seperti program nomer #1, dengan memberi bantuan langsung berupa uang tunai. Kalau uang bantuan tunainya sudah habis buat beli beras, terus orangnya mau apa? Miskin lagi dong ya…?
*
Juga program nomer #2 (Raskin-bantuan beras untuk orang miskin). Kalau bantuan berasnya sudah habis, terus orangnya mau apa? Miskin lagi dong…? Jadi pengetasan itu sifatnya sementara, cosmetic dan short term, tidak permanent.
It is just a naive bila pejabat negara atau rakyat berharap program pengentasan kemiskinan itu bisa berjalan secara permanent.
Coba kita lihat program pemerintah lain yang paling dijadikan harapan untuk mengetaskan kemiskinan di Indonesia secara significant, yakni dari PERTUMBUHAN EKONOMI (economic growth).
Dari formula yang ada, 1% pertumbuhan ekonomi akan bisa atau diharapkan akan bisa menyerap tenaga kerja dari 250 ribu sampai 300 ribu tenaga kerja. Kalau Indonesia mentargetkan akhir tahun 2010 ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia mencapai 6% ataupun sampai 7%, berapa total tenaga kerja yang bisa diserap.
* 6% x 300.000 = 1.8 juta tenaga kerja
* 7% x 300.000 = 2.1 juta tenaga kerja.
Now go figure!
Total kemiskinan di Indonesia tahun 2010 sebanyak 55 juta jiwa. Kalau pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa mencapai 7%pun, baru akan bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 2.1 juta orang.
Inipun berdasarakan hitungan ideal secara matematik. Padahal tidak SELALU begitu dimana setiap 1% pertumbuhan ekonomi itu akan bisa menyerap tenaga kerja dari 250 ribu sampai 300 ribu?
*
Terus sisanya yang 52 juta dan 900 ribu orang mau diapakan? Dibiarkan miskin? Tega amat….???
*
Disinilah yang kami TIDAK mengerti dengan cara berpikir dan daya berpikir dari boss-boss kita seperti Presiden SBY, Wapres Boediono, mantan Menkeu Sri Mulyani, Menko Hatta Rajasa, Menkeu Agus Warto dan para staff ahli serta para ekonom di Indonesia dalam membuat program-program pemerintah untuk menanggulangi dan mengentaskan KEMISKINAN di Indonesia.
*
Dibilang incapable, tapi kelihatanya mereka itu capable, tapi dibilang capable tapi kok bikin program kerja penanggulangan kemiskinan yang cuma asal-asalan dan incomprehensive! Program yang begini incomprehesinve saja kok dibesar-besarin di media.
*
Apa artinya bila dari 55 juta orang miskin hanya 2.1 juta ditargetkan akan dientaskan dari kemiskinan dalam 1 tahun. Padahal itu target, belum tentu jadi kenyataan. Lagian kenapa targetnya kok kecil banget. Masak dari 55 juta orang, hanya 2.1 juta yang diperhatikan. kenapa pemerintah Indonesia hanya bisa bikin program yang tidak bermutu dan terlalu sempit scopenya seperti ini. Padahal menurut Bank Dunia, jumlah kemiskinan di Indonesia itu ada 42%, sekitar 100 juta orang.
*
Kenapa hanya short term dan sifatnya cuma penanggulangan kosmetik saja. Don’t they have more comprehensive plan dan action plan yang sifatnya long-term dan permanent?
*
Program yang paling dihandalkan saja seperti pertumbuhan ekonomi (economic growth) hanya akan bisa menyerap tenaga kerja tidak lebih dari 2 juta orang per tahun, terus yang sisanya 53 juta orang mau diapakan?
*
Masak pemerintah tidak memiliki program yang comprehensive untuk bisa menjangkau 55 juta orang? Kenapa mereka; boss-boss kita, yang kini duduk di pemerintahan cara berpikirnya begitu SEMPIT?
Sebenarnya kami telah menyinggung masalah ini berkali-kali dalam beberapa kesempatan baik berupa article maupun surat terbuka, bagaimana dan pendekatan apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia untuk bisa menanggulangi kemiskinan di Indonesia secara comprehensive. Tapi mereka tidak mau perduli dengan pendapat orang biasa.
*
Karena itu, pada kesempatan ini saya akan memberikan bandingan bagaimana cara-cara negara lain, khususbya negara China dalam menanggulangi kemiskinan.
Ditahun 1978, total kemiskinan di China sebanyak 250 juta jiwa. Ditahun 2004, China BERHASIL mengurangi dan mengentaskan angka kemiskinan ini menjadi 26 juta jiwa, hanya dalam waktu 26 tahun.
*
Jadi ada sebanyak 224 juta jiwa yang bisa diangkat dari kemiskinan oleh pemerintah China han dalam waktu 26 tahun.
*
What an outstanding accomplishment and the people keep saying communist is bad! Ternyata komunisms isn’t bad at all.
*
Terus, progam apa yang dilakukan di negara China?
Apakah dengan memberikan bantuan uang tunai seperti BLT? No. Memberikan beras atau indo-mie (noodle) gratis ke rakyatnya? No. Memberi bantuan kesehatan gratis kepada rakyatnya? No. Terus apa?
China secara agressive memperbaiki hampir semua sektor didalam negeri dalam upanyanya untuk meningkatkan (to capture) “Domestic Equity Market” dengan mengukur keberhasilanya melalui index atau indices dari setiap sektor itu.
*
Dibawah ini adalah daftar sektor-sektor yang diperbaiki secara agressive di China sbb:
*
HIGHLIGHT CHINA’S SECTOR INDICES
|
1. |
Corporate Efficiency Indices |
|
2. |
Mining Indices |
|
3. |
Transmission computer service Indices |
|
4. |
Software Sectors Indices |
|
5. |
Manufacturing Indices |
|
6. |
Transport Indices |
|
7. |
Storage and Postal Service Indices |
|
8. |
Wholesale and Retail Indices |
|
9. |
Real Estate Indices |
|
10. |
Construction Indices |
|
11. |
Accommodations Indices |
|
12. |
Catering Indices |
|
13. |
Supply of Power Indices |
|
14. |
Gas Indices |
|
15. |
Water Indices |
|
16. |
Sector of Service Indices |
|
17. |
Central Government Indices |
|
18. |
Western Government Indices |
|
19. |
Eastern Government Indices |
|
20. |
Medical Insurance Indices |
|
21. |
China’s Business Confidence Indices |
*
Those are sectors that had been aggressively worked on by China’s government consistently in 26 years. Lihat saja hasilnya yang mampu mengentaskan 224 juta jiwa dari kemiskinan hanya dalam waktu 26 tahun. What an outstanding accomplishment!
*
Disinilah yang perlu kita contoh dari negara China.
Karena apa?
Satu negara TIDAK akan berhasil secara ekonomi bila ekonomi didalam negeri TIDAK berjalan dan hanya mengandalkan investasi asing. Bagaimana kalau investasi asing itu berkurang dan menghilang? Apa yang akan terjadi di Indonesia?
*
Disamping itu juga, investasi asing bukan uang gratis atau donation. Investasi asing itu bisa berupa hutang atau obligasi lain. Padahal hutang Indonesia dalam dan luar negeri sudah sangat tinggi, setinggi gunung Hilmalaya dan seluas lautan Pacific. (Below is a link untuk mengetahui posisi huatng Indonesia saat ini 2010):
*
http://parmadim.com/2010/05/05/hutang-indonesia/
*
Karena itu pemerintah Indonesia sudah sepantas harus memperbaiki sektor real dalam negeri untuk meningkatkan tercapainya “Domestic Equity Market” (baik itu dibidang jasa maupun product).
Kalau Domestic Equity Market ini sudah dicapai dan ter-established dengan baik dan solid, hanya masalah waktu, lama-lama Indonesia akan bisa mengembangkan sayap EKONOMI-nya keluar negeri untuk mencapai dan meningkatan “Market Capitalisation” guna menunjang dan memperbaiki Kurs Rupiah untuk bisa bersaing dengan Dollar maupun mata uang asing lainya.
*
Tanpa memperbaiki 2 sektor ini, jangan harap Indonesia akan bisa mengentaskan KEMISKINAN di Indonesia yang sifatnya siginificant seperti yang telah dilakukan negara China hanya dalam waktu 26 tahun.
*
Apalagi jika program pemerintah itu sifatnya cuma program jangka pendek, asal-asalan, kosmetik dan window dressing, hanya sekedar bikin program biar rakyat tidak marah.
*
Makanya karena program pemerintah itu sendiri tidak comprehensive dan tidak bermutu, hasil dari usaha pengentasan kemiskinan itupun tidak bermutu, tidak significant dan tidak comprehensive.
*
Is this the leadership in the era of reformation? What a tragic!
*
For that matter, I am challenging all Indonesian economists, politicians, political party leaders and members of Parliament and even those members of the so called: “Berkeley Mafia” to debate me on this issue.
*
Show me your comprehensive plan and action plans to combat poverty and massive unemployment in Indonesia. Prove me that I am wrong on this issue and be my guest!
*
Chris Komari
Chairman
Partai Masa Depan Indoensia Mandiri (PARMADIM)
>
* Jumlah 224 juta jiwa itu hampir sama dengan total seluruh penduduk di Indonesia 238 juta jiwa di tahun 2010, pemernitah China berhasil mengurangi dan mengangkat angka kemiskinan! Prestasi yang sangat luar biasa, bukan!
*
Link: http://beritaindonesia.co.id/berita-utama/kemiskinan-dalam-statistik-dan-realitas/all
*
- Update: Program Presiden SBY dan pemerintah dalam memberantas kemiskinan tahun 2011:
*
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/08/04411471/rp.861.triliun.untuk.tekan.kemiskinan
*


156 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.
Continuing the Discussion
You must be logged in to post a comment.